Belakangan ini, nama Pertamina telah tercoreng karena dugaan korupsi yang bikin geleng-geleng kepala. Ngga tanggung-tanggung, nilainya diduga hampir 1000 triliun rupiah!
Korupsi ini sangat mengecewakan karena dilakukan oleh perusahaan sebesar Pertamina, yang seharusnya jadi garda terdepan dalam pelayanan publik.
Apalagi bagi Gen Z, sebagai generasi yang kritis dan peduli dengan isu sosial, berita ini sangat mengganggu pikiran mereka. Korupsi ini nggak cuma merugikan secara materi, tapi juga bisa mengacaukan kesehatan mental kita, lho. Berikut 5 penjelasannya.
1. Kepercayaan Lagi-Lagi Terkoyak: Saat Sistem Justru Mengkhianati Gen Z
Gen Z yang tumbuh di era digital, di mana informasi tersebar dengan cepat, terbiasa kritis untuk mengikut isu-isu sosial dan politik terkini, kan. Mereka pun sadar, keberadaan isu besar dalam negara, secara tidak langsung akan berpengaruh kepada hidup mereka.Akibatnya, korupsi besar seperti ini ikutan bikin Gen Z kehilangan kepercayaan pada pemerintah, hukum, dan institusi lainnya. Apalagi, berita korupsi besar-besaran sangat sering muncul belakangan ini.
Rasa kecewa dan frustrasi terhadap korupsi, bisa memicu stres, kecemasan, dan bahkan depresi. Gen Z merasa sistem yang seharusnya melindungi mereka justru mengkhianati mereka.
2. Trauma Kolektif: Gen Z Berulang Kali Sakit Hati karena Golongan Elit!
Kekecewaan ini kemudian menjadi trauma koletif dalam berbagai cara, seperti kecemasan akan lapangan pekerjaan, ketidakpastian ekonomi, dan harapan keadilan kehadiran negara.
Kekacauan itu, pada puncaknya akan menghilangkan harapan kita terhadap masa depan yang baik di Indonesia. Gen Z merasa bahwa mereka tidak akan pernah bisa mempercayai golongan elit lagi.
3. Sinisme Merajalela: Gen Z Merasa Tak akan Pernah Bisa Bawa Perubahan Baik!
Sedihnya, mereka bisa beranggapan, upaya mereka untuk membuat perubahan tidak akan pernah ada artinya, karena sistem yang korup selalu menghalangi.
Perasaan ini dapat menyebabkan Gen Z menarik diri dari partisipasi sosial dan politik. Mereka merasa bahwa tidak ada gunanya untuk berjuang demi perubahan baik, jika pada akhirnya mereka akan dikhianati seperti ini.
4. Dikhianati Generasi Tua: Beban yang Dipikul Generasi Muda
Gen Z sering kali merasa bahwa mereka mewarisi masalah dari generasi sebelumnya, termasuk korupsi. Mereka merasa dikhianati karena generasi terdahulu tidak meninggalkan warisan yang baik.Perasaan ini bisa menimbulkan kemarahan dan kebencian, serta merusak hubungan antar generasi.
Mereka merasa bahwa mereka harus membersihkan kekacauan yang ditinggalkan oleh generasi sebelumnya. Dan kita merasa harus bekerja lebih keras untuk meraih kesuksesan, karena memulai dari titik yang lebih rendah.
5. Frustrasi Memuncak: Saat Amarah Mendorong Perilaku Destruktif
| Ilustrasi terjadi kericuhan karena aksi destruktif. unsplash.com/@spenserh |
Apalagi jika Gen Z merasa bahwa saluran aspirasi mereka tersumbat, bahwa suara mereka tak lagi didengar oleh para pemangku kebijakan. Bukan tidak mungkin, mereka melihat aksi-aksi destruktif sebagai satu-satunya cara untuk menarik perhatian dan menyampaikan pesan mereka. Jika tindakan ini beneran terjadi, bisa dibayangkan kacaunya negara nanti.
Isu korupsi Pertamax oplosan ini memang bikin kita geram dan kecewa. Wajar banget kalau kita merasa begitu. Tapi, jangan sampai rasa putus asa menguasai kita, ya. Kita, Gen Z, harus tetap percaya bahwa kita punya kekuatan untuk mengubah keadaan.
Ingat, kita punya hak untuk merasa marah, tapi kita juga punya tanggung jawab untuk menjaga kesehatan mental kita. Jangan biarkan para koruptor menang dengan membuat kita kehilangan harapan.
Gambar sampul: unsplash.com/@a_d_s_w


Posting Komentar