7+ Cara Memalukan Seseorang Demi Mencapai Closure, Chat Panjang Lebar!

Demi raih kedamaian setelah putus hubungan, seseorang rela melakukan apapun. Berikut beberapa cara memalukan yang sering terjadi demi meraih closure.
Punya gebetan yang tiba-tiba ngilang, teman yang menjauh tanpa alasan, atau bahkan sahabat yang tiba-tiba jadi musuh bebuyutan. Rasanya pasti nggak enak banget, kan? 

Closure, atau penutupan, adalah kondisi di mana kita merasa sudah bisa menerima dan berdamai dengan akhir dari suatu hubungan atau situasi. Tapi, sedihnya, nggak semua orang bisa mendapatkannya dengan mudah. 

Bahkan, ada beberapa orang yang sampai melakukan tindakan-tindakan yang bisa bikin malu sendiri kalau mengingatnya. Penasaran apa aja? Yuk, simak ulasannya!

1. "Stalking" mantan di media sosial, malah bikin makin overthinking!

Ilustrasi stalking media sosial. pexels.com/@jibarofoto/
Pernah ngintip profil mantan di media sosial? Hayo ngaku! Ini nih salah satu cara "memalukan" yang paling sering dilakukan orang demi mendapatkan closure. 

Mulai dari ngecek story, ngeliatin foto-foto lama, sampai menganalisis setiap interaksi yang mereka lakukan. Semuanya dilakukan dengan harapan bisa move on. (Baca: Nyesek banget!)

Padahal, semakin sering kita ngintip, semakin susah juga kita buat move on, loh. Yang ada malah bikin kita jadi kepikiran terus, membandingkan diri dengan pasangan baru mereka, atau bahkan bikin skenario-skenario nggak jelas di kepala kita.

Ingat, media sosial itu isinya cuma "highlight" kehidupan orang. Jangan sampai kita terjebak dalam ilusi yang mereka ciptakan. Lebih baik fokus sama diri sendiri dan cari kebahagiaan kita sendiri, yaa.

2. Meminta penjelasan yang berulang-ulang: seperti alasan meninggalkan, dkk

Ilustrasi minta penjelasan berulang-ulang. pexels.com/@timur-weber/
"Kenapa sih kamu ninggalin aku?" sampai "Apa salahku?". Pertanyaan itu mungkin pernah terlintas di benak kita saat ditinggalkan seseorang. 

Sebenarnya wajar kok, kita pengen tahu alasan di balik semua ini. Tapi, kalau kita terus-terusan "ngejar-ngejar" penjelasan, itu bisa jadi bumerang buat diri kita sendiri. Selain bikin kita kelihatan putus asa banget, kita juga bisa jadi korban manipulasi atau kebohongan.

Sedihnya, kita nggak bisa memaksa seseorang untuk memberikan penjelasan. Kalau mereka nggak mau ngomong, ya sudah. Lebih baik kita terima kenyataan dan fokus sama healing diri sendiri. Meski susah, huhuu.

3. Bikin drama di media sosial: curhat colongan biar semua orang tahu

Ilustrasi membuat drama di media sosial. pexels.com/@olly/
Cara umum selanjutnya adalah membuat drama di media sosial. Misalnya dengan nulis "Dia jahat banget!", "Aku dibohongin!", "Jangan percaya sama dia!". Dan segala perkataan yang menunjukkan kalau kita sangat tersakiti.

Memang sih, curhat bisa bikin kita merasa lega. Tapi, kalau curhatnya terlalu berlebihan atau bahkan mengandung unsur fitnah, itu sudah ngga baik buat diri sendiri, loh. Selain bikin kita kelihatan nggak dewasa, kita juga bisa kehilangan simpati dari orang lain.

Sebaiknya, kita curhat sama orang yang benar-benar kita percaya atau mencari bantuan dari profesional.

4. Mengirim pesan teks panjang dan emosional, tapi dia ngga akan kembali

Ilustrasi mengirim teks emosional demi mendapatkan closure. pexels.com/@karolina-grabowska/
Nah ini nih, contoh lain tindakan paling 'seru' dan memalukan demi mendapatkan closure, kan. Isinya biasanya curhatan penuh emosi, harapan buat balikan, atau bahkan sumpah serapah. Bener ngga? Hayo ngakuu!

Tindakan ini sering kali dilakukan saat kita lagi kalut, berharap mantan bisa luluh dan balik lagi. Tapi, yang ada malah bikin kita kelihatan desperate, atau bahkan bikin mantan ilfeel.

Sayangnya, chat panjang penuh emosi nggak bakal mengubah apapun. Coba pertimbangkan untuk melakukannya. Bayangkan saja, jika suatu hari tindakan ini akan membuatmu malu terlalu bergantung dan merendah untuk manusia yang tidak seberapa.

5. Mengembalikan barang kenangan secara dramatis: biar ada alasan buat ketemu lagi?

Ilustrasi mengembalikan barang kenangan demi mencapai closure. unsplash.com/@lorraineadelinephotography
Nggak jarang, setelah putus, seseorang berusaha mengembalikan barang-barang kenangan dengan cara yang dramatis. Misalnya, meletakkan barang-barang itu di depan pintu rumah mantan, mengirimkannya melalui kurir dengan pesan yang emosional, atau bahkan mengembalikannya saat bertemu di tempat umum.

Tindakan ini sering kali didorong oleh harapan untuk bisa bertemu lagi dengan mantan atau untuk membuat mereka merasa bersalah.

Padahal, tindakan ini malah bisa membuat mantan merasa risih atau bahkan takut. Lebih baik kita simpan barang-barang itu sebagai kenangan atau buang saja kalau memang sudah tidak ada artinya.

6. Cari tahu keseharian mantan lewat orang lain

Ilustrasi cari keseharian mantan dari orang lain, demi closure. pexels.com/@tim-douglas/
"Eh, kamu tahu nggak sih kabar mantan aku?", "Dia sekarang sama siapa?", "Dia masih suka ngomongin aku nggak?". Pertanyaan-pertanyaan kayak gini sering kita lontarkan ke teman atau keluarga mantan. Bahkan, kadang secara ngga sadar hal itu terucap karena kita belum mencapai closure.

Memang sih, rasa ingin tahu itu manusiawi demi kita mendapatkan validasi perasaaan. Tapi, kalau kita terlalu kepo, itu bisa jadi mengganggu privasi orang lain. Selain itu, informasi yang kita dapatkan juga belum tentu beneran, kan.

7. Pengen "kebetulan" ketemu mantan: datang ke tempat membuat kenangan bersama

Ilustrasi mengunjungi tempat kesukaan mantan. pexels.com/@bluerhinomedia/
Ngga jarang orang-orang ke tempat kenangan bersama mantan demi mendapatkan closure. Biasanya, tindakan ini barengan dengan harapan bisa "kebetulan" ketemu? Misalnya, nongkrong di kafe favoritnya, atau ikut acara yang kamu tahu dia bakal datang.

Tindakan ini sering kali didorong oleh harapan untuk bisa ngobrol lagi, atau sekadar melihat reaksinya. Tapi, yang ada malah bikin suasana jadi canggung. Yakin, kamu ngga bakal malu, sedih, atau bahkan makin gedeg saat ketemu.

8. Tenggelam dalam kesedihan: parahnya sampai merusak diri sendiri untuk mantan yang ngga seberapa

Ilustrasi merusak diri demi mencapai closure. pexels.com/@cottonbro/
Setelah putus cinta atau kehilangan teman dekat, wajar kalau kita merasa sedih. Tapi, ada beberapa orang yang malah tenggelam dalam kesedihan, sampai-sampai merusak diri sendiri. Dan ini sangat menyakitkan untuk disaksikan!

Misalnya, mengurung diri di kamar berhari-hari, nggak mau makan, atau bahkan melakukan hal-hal yang membahayakan diri sendiri. Padahal, kesedihan yang berlarut-larut malah bikin kita semakin susah buat move on. Apalagi kita melakukan hal ekstrim ini untuk manusia yang ngga seberapa.

Mencari closure memang nggak mudah. Ada kalanya kita tergoda untuk melakukan hal-hal "nyeleneh" demi mendapatkan jawaban atau pengakuan. Tapi, ingat, closure sejati itu datang dari diri kita sendiri, yaa.

Daripada sibuk mencari closure dari orang lain, lebih baik kita fokus sama healing diri sendiri. Terima kenyataan, maafkan diri sendiri, dan buka lembaran baru. Dengan begitu, kita bisa move on dengan lebih tenang dan bahagia.
  • Sumber gambar: pexels.com/@olly/

Posting Komentar