DW Documentary merupakan salah satu platform DW TV, perusahaan asal Jerman yang menyajikan film dokumenter secara gratis kepada pecinta genrenya. Beragam jenis film dokumenter sudah pernah mereka jajal. Sejarah, biografi, investigasi hingga ilmu pengetahuan adalah beberapa diantaranya. DW bahkan pernah mengabadikan dan menyetempel Sungai Citarum Indonesia sebagai paling tercemar in the world.
Print Out The World yang disutradarai Kristin Siebert terbit pada 24 Mei 2020. Film yang mengusung tema teknologi tersebut berhasil mengemas keajaiban terhadap lahirnya teknologi 3D Print atau mesin cetak tiga dimensi. Berdurasi kurang dari 30 menit, film menampilkan revolusi mesin cetak tiga dimensi dari Jerman hingga benua Amerika beserta keterkaitannya.
Ringkasan dan Pembahasan
Isu mengenai printer 3D sudah muncul sejak 1972 atau hampir 50 tahun yang lalu ditandai dengan munculnya dokumen berjudul “3d printing of the Bolsho? Medical Encyclopedia”. Di Indonesia sendiri, isu tersebut berkembang sekitar 2014. UGM menjadi salah satu pendahulu terhadap riset printer 3D di negara kita.
Sutradara menggambarkan printer 3D sebagai suatu keajaiban yang seolah setara dengan sihir. Buktinya Siebert membuka film dengan kalimat “Benda-benda terbentuk seolah-olah diciptakan oleh kekuatan ajaib.”
Pembukaan tersebut menghantarkan penonton terhadap bagaimana kita akan merasakan keajaiban dan terpukau dengan salah satu teknologi yang mengubah dunia. Printer 3D mampu merevolusi cara kerja industri konvensional dengan membuat benda bergeometri sulit hanya dari rumah. Suatu keajaiban yang belum pernah terjadi.

[3] Motor Bakar Mini
Fast Radius bekerja sama dengan perusahaan logistik UPS untuk memikirkan kembali konsep rantai pasokan (supply chain). Rantai pasok sendiri adalah sistem yang berfungsi dalam proses persiapan dan penyampaian produk kepada pelanggan.
Pergudangan menjadi salah satu bagian supply chain. Menurut CEO Fast Radius Lou Rassey, dengan adanya printer 3D kita tidak memerlukan gudang sebagai tempat penyimpanan karena cukup memindai barang kemudian simpan sebagai file elektornik. Apabila perlu mencetak cukup menggunakan printer 3D sehingga produk yang tidak terjual dapat dihindari karena bersifat pemesanan.
Sebagian besar film mengarah pada perkembangan printer 3D di negara Jerman. Siebert menerjemahkan bahwa beberapa waktu belakangan kepercayaan dunia terhadap teknologi Jerman menurun. Melalui perkembangan printer 3D di Jerman dapat menjadi awal baru bagi negara mereka.
Kepopuleran dari printer 3D juga berhasil menggaet industri penerbangan, salah satunya Airbus. Mereka menggabungkan komponen hasil printer 3D kedalam produk A350 dan berhasil mengurangi bobot dari pesawat. Pengurangan tersebut mampu menghemat setengah juta liter avtur.
Bagian yang lebih keren adalah perusahaan sepatu Adidas bekerja keras menggunakan printer 3D sebagai salah satu perangkat untuk menyukseskan produk suistainable. Penggunaan bahan mudah terurai terungkap menjadi harapan dari teknologi ini.
Kesimpulan
Kristin Siebert mampu merangkum kompleksitas teknologi printer 3D menjadi sangat padat namun dengan pembawaan yang mudah dipahami.
Sinematografi cukup menjelaskan bahwa teknologi tersebut kenyataanya memang luar biasa. Banyak sekali gambaran terhadap produknya yang menarik minat saya. Salah satunya adalah sepeda motor full dari printer 3D.
Fokus pembahasannya terhadap perkembangan printer 3D yang dilengkapi perkembangan di Asia (India), Amerika (Amerika Serikat) dan Belanda menjadi poin tersendiri terhadap sensasi tur berkeliling dunia hanya lewat sebuah film.
Beberapa konsep bisnis bidang teknologi juga bisa menambah wawasan. Salah satunya adalah perusahaan logistik UPS. Metode bisnis yang mereka tunjukkan seperti melihat peluang, cepat menangkapnya dan teknik merealisasikannya sangat menarik untuk direnungkan.
Sisi menarik lainnya adalah cara sinemator dalam membuka dan menutup film. Mereka membuka dengan rangkuman dan menutup dengan kesimpulan. Super menarik.
Untuk kekurangan, saya belum menemukannya karena sangat menikmati serangkaian penjelasan dan tur yang disajikan. Akan tetapi yang menjadi prihatin adalah sisi negara kita Indonesia yang belum tersorot terhadap keaktifan pengembangan printer 3D.
Sumber
[1] Kholifah. Alika Noor. 2019. "Dosen UGM Pelopor Printer 3D di Indonesia" https://www.viva.co.id/digital/teknopedia/1124817-dosen-ugm-pelopor-printer-3d-di-indonesia, diakses pada 2 Agustus 2021 pukul 09.39.
[2] "Pelajari Sistem Rantai Pasok dan Strategi Pengelolaannya" https://www.jurnal.id/id/blog/pelajari-sistem-rantai-pasok-dan-strategi-pengelolaannya/, diakses pada 2 Agustus 2021 pukul 09.41.
[3] Youtube.com/DW Documentary (Tangkapan layar)



Posting Komentar